Sebenarnya kurang enak saya menceritakan diri sendiri di sini. Tetapi, sekedar kenalan, gak papa. Saya di sekolah biasa dipanggil Kang Jimat oleh teman-teman sebaya, dan dipanggil Nang Jimat oleh Bapak/Ibu Guru yang mengajar saya di SMP dulu. Kebetulan saya mengajar di SMP 1 Jekulo, Kudus, tempat saya belajar dulu. Boleh dibilang saya ini kembali ke rumah dan berkumpul dengan Bapak dan Ibu (Guru) saya. Saya sangat senang bekerja di SMP ini bersama-sama dengan Bapak dan Ibu Guru yang rasa sayangnya pada saya tak pernah berubah sejak dulu.
Tak ada yang lebih menyenangkan, kecuali bekerja dan berkembang bersama-sama mereka, teman-teman dan orang-orang tua yang saling penuh perhatian.
Di kelas, saya di panggil Pak Jimat oleh anak-anak … (hehe, masak di panggil mas?). Saya jadi guru sejak tahun 1999, murid saya yang pertama sudah ada yang berkeluarga, punya anak, dan jadi guru (terkadang saya berpikir hidup kok bergitu cepat dan kejar-kejaran…)
Di rumah, saya dipanggil Yayah oleh Pelangi Pagi (11 th) dan Matahari Timur (8 th), kedua anak saya, dan Iin, ibunya.
Kami berempat tinggal di kampung kecil bernama Kaliwuluh, Gondoharum RT 01 RW IV, Jekulo Kudus, sebuah desa di ujung timur Kabupaten Kudus. Rumah kami persis di bawah Bukit Patiayam, di tepian sungai kecil dan barisan gunung-gunung, dipagari oleh ladang jagung. Desa kelahiran yang tidak terlalu panas, juga tidak terlalu dingin. Hangatlah.
Sepulang dari sekolah, kami sering lebih banyak bersantai: nulis, ngenet, dan ngegame, dan mendengarkan lagu dangdut, atau jalan-jalan ke “Kudus” belisiomay ikan dan ngejus bersama anak-anak di Simpang Tujuh. Kalau ada pentas teater atau baca puisi, sesekali ikut nonton.
Semuanya serba biasa, gak ada yang istimewa, karena begitulah cara hidup orang biasa.
Salam hangat, tetap semangat!
Leave a Reply